ef

Fenomena Adaptasi Anime yang Sering Diabaikan

Animasi buatan Jepang atau yang lebih familiar disebut dengan anime merupakan sebuah bentuk hiburan yang sudah sangat dikenal dan digandrungi oleh semua kalangan apalagi bagi masyarakat Indonesia saat ini. Anime apa yang saat ini atau sudah kamu tonton? Kanojo Okarishimasu, Sword Art Online, Grand Blue, atau mungkin Shingeki no Kyojin? Jika saya menyebutkan deretan anime tersebut, saya yakin semuanya tahu setidaknya pernah dengar. Dan dari banyaknya orang yang menonton anime apakah kamu tahu dari mana animasi yang sudah Anda tonton itu berasal? Maksud saya di sini adalah dari manakah material asli (source material) anime tersebut dibuat. Oke, mungkin beberapa bisa menjawabnya dengan benar. Tapi bagaimana jika saya menyebutkan anime seperti Euphoria, Kyonyuu Fantasy, Shoujo Ramune, atau Aokana. Anime yang tidak terkenal, sekalinya terkenal cuma sebatas anime tidak berbobot dengan durasi pendek, atau mungkin memandang anime hentai sebagai hal buruk.

Higurashi – 07th Expansion

Jangankan anime itu, yang terkenal aja banyak yang gak tau, denial juga ada… misalnya White Album 2, School Days, Fate series, yang asalnya dari gim novel visual. Belum lagi ada yang nyeletuk, “Anime yang lu tonton asalnya dari game bok*p bro”. Lah, emang kenapa kalau dari game bo*ep? Apakah menjadi sebuah keburukan yang perlu diperbincangkan? Membuat making love justru mengindikasikan keintiman dan kemesraan antar karakter.

Sebenarnya, untuk mengecap sebuah anime itu buruk atau tidak jika hanya melihat dari sisi adaptasi sebuah anime tanpa melihat source materialnya itu kurang bijak. Sungguh sangat disayangkan tentu saja, karena banyak anime yang mendapatkan konotasi buruk karena adaptasi animenya yang buruk juga. Misal Kara no Shoujo. Anime ini di dikenal sebagai anime hentai yang jika dilihat memang absurd. Jika Anda membaca source materialnya, pandangan Anda seharusnya ikut berubah seperti pemikiran saya saat dahulu kala. Untuk mendapatkan sebuah pengalaman yang layak, sejajar atau lebih bagus dibandingkan dengan melihat source material sungguh pemandangan yang langka dalam kaca mata per-VNan. Banyak anime yang tidak mendapatkan nasib sebaik Fate series, Steins gate, serta Grisaia yang sama-sama berasal dari novel visual.

Selain dalam sisi cerita, beberapa yang perlu disinggung adalah masalah grafis walau gak selalu mutlak. Ya, saya tahu buat animasi itu gak gampang dan butuh uang yang tidak sedikit – pasti lebih mudah membuat gambar statik.

Terlepas dari itu, sebenarnya keberadaan adaptasi anime ini dari pengamatan saya memang beragam. Salah satunya hanya untuk ajang promosi demi mempromokan produk source materialnya. Tapi yang menjadi kekecewaan dengan adaptasi hentai ini malah hampir semuanya ada plot hole di sana sini, perubahan cerita, dan hanya mempertontonkan disatu bidang tertentu.

Intinya baca source material itu hampir semuanya lebih mendetail dan pasti ada sensasi berbeda dibanding melihat adaptasi animasinya saja. Jadi, jika ada pernyataan “saya sudah nonton animasinya, buat apa lihat souce materialnya”. adalah sebuah kekeliruan.

Sebagai tambahan, karena agak risih dengan pernyataan ini, “Baru tau gue adaptasi aslinya dari vn”. Sekarang … jadilah orang yang lebih berwawasan dengan lihat situs informasi tentang anime, dan lihat tulisan source yang saya lingkari warna kuning!